Top dan Unik
Kantor Wahyu Utama Telepon. Email bumipeternakanwahyuutama@gmail.com .
HANYA MELAYANI MELALUI EMAIL
Selamat Datang
Jika kamu mau update berita selanjutnya ,kamu bisa berlangganan gratis blog ini silakan klik link
Bumi Peternakan !

Cari Artikel

29 Juni 2012

Penanganan Kembung (Timpani) dan Diare pada Sapi muda (Pedet)


Pedet merupakan cikal bakal induk. Bila tidak dipelihara dengan baik tentu pada akhirnya indukan yang dihasilkan memiliki kualitas yang kurang bagus. Penyakit yang sering dialami pedet yaitu diare dan kembung (timpani/bloat).
  1. Diare (Mencret)
Diare sering menyerang pedet. Diare merupakan sebuah kata umum yang digunakan untuk menggambarkan keadaan sapi yang mengalami sakit mencret. Diare pada ternak khususnya sapi bukan merupakan sebuah penyakit, tapi lebih merupakan tanda atau gejala klinis dari sebuah penyakit yang lebih komplek yang bisa disebabkan oleh berbagai hal. Diare pada ternak, seperti pada manusia, dapat terjadi ketika pergerakan cairan tubuh dalam sistem pencernaan mengalami gangguan. Biasanya selalu berakibat kehilangan cairan atau dehidrasi. Cairan tubuh yang keluar ini juga membawa garam-garam mineral atau elektrolit. Kehilangan cairan ini akan merubah keseimbangan kimiawi tubuh, yang pada akhirnya akan menimbulkan stress dan depresi dan dapat berujung pada kematian. Rehidrasi, sebuah terapi pada ternak dengan memberikan air dan suplemen elektrolit yang dapat membantu meredakan efek diare dan memulihkan keseimbangan tersebut. Secara umum, diare dibagi dua kategori, diare yang dibebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi (non-infeksius) dan diare yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme.
  • Diare non infeksius
Diare non infeksius biasanya disebabkan oleh perubahan (yang mendadak) dari program pemberian pakan. Bisa terjadi ketika pedet yang asalnya mengkonsumsi susu sebagai satu satunya sumber nutrisi, tumbuh dewasa dan mulai makan serat kasar atau hijauan sebagai suplemen. Atau bisa juga terjadi ketika pemberian susu buatan (CMR - Calf Milk Replacement) tidak sesuai takaran, terlalu dingin atau bahkan basi. Meskipun seringkali tidak sangat berbahaya dan tidak sampai menyebabkan kematian, diare non-infeksi ini (terutama pada sapi muda/pedet) dapat dengan cepat melemahkan tubuh yang pada gilirannya dapat menyebabkan ternak rentan terkena diare infeksi atau penyakit lain yang lebih parah.
  • Diare infeksius
Diare jenis ini merupakan masalah terbesar terutama pada sapi pedet. Bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau protozoa. Oleh sebab itu, identifikasi terhadap sumber penyebab diare merupakan sebuah langkah penting dalam membuat program pencegahan diare.
  1. Infeksi bakteri
Bakteri ini menghasilkan semacam protein yang bersifat racun yang dapat menganggu dinding usus. Ternak memberi reaksi terhadap racun ini dengan memompa air dalam jumlah banyak ke dalam usus dengan tujuan untuk membilas atau menyiram racun ini. Beberapa bakteri yang bertanggung jawab terhadap infeksi ini adalah berasal dari jenis E. coli, Salmonella, dan Clostridium.
  1. Infeksi Virus
Virus menyerang lapisan penyerapan. Virus masuk kedalam sel dan menggunakan bahan bahan sel tersebut untuk reproduksinya. Ketika sel yang menjadi tempat berkembang biak penuh oleh virus, sel tersebut pecah dan mengeluarkan virus-virus baru untuk menyerang sel lain lebih banyak. Infeksi yang disebabkan virus menyebabkan pedet menjadi lebih rentan terhadap serangan infeksi bakteri lain. Rotavirus dan Coronavirus memiliki cara kerja yang sama dan merupakan “tertuduh” utama pada kasus diare pada pedet. Kedua organisme tersebut banyak terdapat pada sapi dewasa dan paparan pada sapi sapi muda menjadi sangat umum. Gejala yang ditimbulkan adalah mencret parah, hampir tidak ada demam, depresi dan dehidrasi hebat. Seringkali terjadi pengeluaran saliva (air liur) dan sering mengejan. Biasanya terjadi sampai pada 10 - 14 hari sejak kelahiran, khususnya 10 hari pertama. Pada kasus ini antibiotik tidak efektif terhadap virus, tapi dapat membantu melawan infeksi bakterinya.
  1. Infeksi Protozoa
Organisme (Coccidia & Cryptosporidia) ini masuk kedalam tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan dapat hidup dalam kondisi dormant (suri) di tanah dan kotoran ternak selama 1 tahun. Ketika sampai di dalam usus, telur (oocyst) dari protozoa ini menetas dan berkembang biak. Menempel dan masuk ke dalam jaringan sel pada lapisan usus, menghambat pencernaan dan penyerapan makanan. Gejala infeksi subklinis kronis tidak begitu jelas, biasanya ternak menderita dan mengurangi konsumsi pakan sehingga pertumbuhan terhambat. Infeksi akut menyebabkan diare (terkadang disertai darah), depresi, kehilangan berat badan dan dehidrasi. Tapi biasanya pedet tetap makan. Coccidia memiliki siklus hidup 21 hari. Sehingga pada pedet usia dibawah itu (18 - 19 hari) jarang yang terinfeksi. Cryptosporidia biasanya ditemukan pada pedet usia 7 - 21 hari. Secara umum menginfeksi bersama rotavirus, coronavirus dan E. coli.
Karena masalah utama dari pedet yang diare adalah kehilangan cairan, maka tindakan terhadap pasien yang pertama harus ditujukan untuk memperbaiki kembali keseimbangan cairan tubuh. Selanjutnya adalah tindakan pemberian antibiotik dan perawatan yang baik. Cairan (dalam hal ini air) sangat penting, tapi harap di ingat, selain cairan, diare juga menghilangkan garam garam elektrolit. Dan tanpa elektrolit dalam proporsi yang seimbang, cairan saja tidak dapat diserap tubuh. Sekitar 70% dari bagian tubuh pedet terdiri dari air. Tanda tanda klinis dehidrasi biasanya mulai terjadi saat 5 - 6 persen cairan tubuh hilang. 10 persen kehilangan cairan berakibat depresi, mata sayu, kulit kering dan sangat mungkin pedet tidak bisa berdiri. Pada 15 persen, biasanya berakibat kematian. Konsultasikan dengan dokter atau mantri hewan mengenai elektrolit yang dapat diberikan secara oral. Apabila cairan elektrolit tidak tersedia, kita dapat membuat sendiri. Cara membuatnya pun cukup mudah yaitu :
  • Resep Cairan Elektrolit untuk Diare
  1. 3 kotak kecil kaldu sapi instan atau bisa juga menggunakan 1 sachet kaldu sapi.
  2. 1 sachet agar agar bubuk, merek burung camar
  3. 2 sendok garam
  4. 2 sendok soda kue/baking soda/sodium bicarbonate/NaHCO3
Campurkan bahan diatas dengan air hangat hingga mencapai 2 liter. Berikan perlahan lahan, 1 liter larutan elektrolit ini setiap 3 - 4 jam. Jangan dulu berikan susu, minimal 24 jam setelah pemberian elektrolit, karena susu merupakan medium yang baik bagi pertumbuhan bakteri E. coli. Apabila pedet sudah bisa minum dari dalam ember (sebaiknya diajarkan sedini mungkin), biarkan pedet meminumnya, tapi awasi jangan sampai terlalu cepat. Bila tidak, buatlah botol dot dengan cara membuat dari botol air mineral kemasan 1 liter. Beri selang yang dimampatkan di ujungnya. Beri lubang sedikit agar cairan dapat keluar perlahan lahan.
Secara umum, selain kehilangan cairan, kondisi diare menyebabkan sistem pencernaan menjadi asam. Oleh karena itu, selain terapi cairan dan elektrolit, perlu juga diberikan larutan suspense alkali. Yang dalam resep diatas berupa soda kue. Bila tidak tersedia, kiranya 2 liter air hangat ditambah 2 sendok makan garam pun dapat membantu. Selain resep diatas, ada beberapa resep lain yang dipercaya masyarakat dapat digunakan untuk menangkal diare pada sapi, baik sapi pedet maupun sapi dewasa.
Efektif jika diberikan daun sirsak, daun pisang atau campuran 10 cc getah pepaya dengan 100 cc air. Ada juga yang mempercayai bahwa daun nangka bisa berkhasiat menghentikan diare. Perlu di ingat bahwa tindakan tindakan ini hanya untuk membantu meredakan diare, bukan untuk mengobati infeksi (bila ada) yang terjadi. Konsultasikan selalu dengan dokter atau mantri hewan untuk tindakan selanjutnya atau perawatan antibiotik.

2. Kembung (Timpani/bloat)
Selain diare, penyakit kembung merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang ternak ruminansia terutama sapi dan domba. Meskipun terlihat sepele, sebaiknya kita selalu waspada, karena pada kasus yang berat dapat berakibat fatal dan kematian pada ternak. Ada beberapa jenis kembung, namun yang akan lebih banyak diungkap disini adalah kembung pada perut rumen (rumen bloat) yang umum menyerang pedet. Beberapa gejala yang tampak ketika ternak mengalami kembung yaitu:
  • Perut bagian kiri atas membesar dan cukup keras, bila ditepuk akan terasa ada udara dibaliknya, dan berbunyi seperti tong kosong, persis ketika kita merasa kembung.
  • Ternak merasa tidak nyaman, menghentakkan kaki atau berusaha mengais-ais perutnya.
  • Ternak sulit bernafas atau bernafas melalui mulut.
  • Sering berkemih/kencing,mengejan.
  • Pada kasus yang berat akhirnya tidak dapat berdiri dan mati.
  • Perut menjadi tegang.
  • Anus menonjol.
  • Nafas ngos-ngosan.
  • lidah kebiruan.
Meskipun sudah melakukan langkah-langkah pencegahan, bloat masih dapat terjadi. Memanggil dokter atau mantri hewan merupakan tindakan yang dianjurkan. Namun hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena berbagai keterbatasan.
Tindakan yang dapat dilakukan oleh peternak baik secara tradisional maupun medis modern untuk mengobati kembung diantaranya adalah:
1. Ganti menu hijauan segar dengan daun kering/hay. Hal ini akan membantu pada bloat ringan. Membawa ternak berjalan jalan juga dapat membantu. Terutama bagi pedet yang baru berlatih memakan hijauan.
2. Bila masih berlanjut, berikan anti foam. Secara tradisional berupa minyak nabati atau lemak. Minyak bertugas sebagai pengurai buih. Berikan BAKAZHA OIL sebanyak 300 ml segera setelah bloat terdeteksi. Susu murni sebanyak 1 liter juga dapat dijadikan alternatif untuk membuyarkan buih. Obat modern anti foam untuk mengobati timpani juga tersedia dalam berbagai merek, dapat diperoleh di toko-toko obat hewan.
3.Dengan menggunakan selang (ukuran ¾” sampai 1” diameter) sepanjang 2 – 3 meter yang dilumuri dengan minyak, dimasukkan melalui mulut melalui esophageal sampai mencapai rumen untuk membantu mengeluarkan gas dari dalam rumen. Selang ini sering disebut selang esophagus/stomach tube. Cara ini terkadang berhasil namun cukup berbahaya karena dapat menganggu bagian dalam ternak. Sebaiknya mintakan saran pada dokter hewan atau latihan dahulu sebelum bloat terjadi.
4.Apabila cara diatas tidak terlihat manjur dan kondisi ternak sudah tidak bisa berdiri sementara dokter hewan belum datang, kita harus melepaskan tekanan gas dengan paksa dengan cara melubangi dinding perut sapi. Bisa dengan menggunakan trokar (semacam penusuk, mirip paku tapi lebih besar) yang ditusukkan pada perut kiri atas, di belakang tulang rusuk. Gas yang terjebak dapat keluar melalui lubang tersebut. Apabila trokar tidak tersedia, sembarang alat yang tajam sepeti jarum suntik, jarum besar atau paku dan pisau bisa juga digunakan untuk membuat lubang sedalam kira-kira 2,5cm. Setelah ditusukkan, pisau jangan dicabut, tapi diputar miring sehingga gas bisa keluar. Namun demikian tindakan ini sebaiknya dipandang sebagai cara terakhir, karena bila salah dapat merobek rumen. Apabila ini terjadi dokter harus melakukan jahitan dan memberikan antibiotik untuk menghindari infeksi.
5. Selain cara di atas terdapat beberapa alternative pengobatan lain, yaitu poloxalene 100- 200 gram, pil kembung 2 - 4 butir.

Beberapa pendapat peternak tentang cara pengobatan kembung secara tradisional adalah
Beberapa peternak mengklaim dengan memberikan air soda (sprite) 1 – 2 botol dapat membantu. Bila ditelusuri, soda dapat memudahkan sendawa. Namun demikian perlu diteliti lebih lanjut, jangan sampai kandungan gas (karbondioksida) pada soda malah terjebak dan memperparah bloat.
Pemberian daun nangka muda dapat mengobati sakit perut. Peternak juga suka memberikan daun nangka ini pada ternak yang mengalami bloat.
Memberikan air kelapa muda. Air kelapa mengandung mikroorganisme probiotik, sehingga kemungkinan dapat membantu.
Memasukkan pelepah atau daun pepaya pada anus ternak yang mengalami bloat. Pepaya mengandung pektin yang sering digunakan sebagai obat diare.
Beberapa resep tradisional lain untuk mengobati bloat yang dapat ditemukan antara lain:
  1. Daun kentut atau sembukan 3 genggam dan bawang merah 20 buah. Parut halus daun kentut dan haluskan bawang merah. Campur kedua bahan dan tambahkan garam. Campur air dalam botol dan minumkan. Dosis untuk satu ekor sapi dewasa. Sapi pedet diberikan separoh.
  2. Getah pepaya 2 sendok makan. Garam dapur 1 sendok makan. Campurkan secara merata dan tambah air dalam botol air mineral kemudian diminumkan. Dosis untuk satu ekor sapi pedet.
Secara umum pengendalian penyakit yang paling baik adalah menjaga kesehatan sapi pedet dengan tindakan pencegahan, antara lain:
Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan.
Sapi yang sakit dipisahkan dari sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
Mengusakan lantai kandang selalu kering.
Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai
petunjuk.

Daftar Pustaka

Muharlien, Tri Eko Susilorini, dan Manik Eirry Sawitri. 2008. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Jakarta. Penebar Swadaya.

Sudarmono, A S dan Y Bambang Sugeng. 2008. Sapi Potong: Pemeliharaan, Perbaikan Produksi Bisnis, Analisis Penggemukan. Jakarta. Penebar Swadaya.

Trinur Hayati. 2006. Pakan Nutrisi Hewan. Power Point.




Artikel asli Bumi Peternakan Wahyu Utama


drh. Ike Yuniarni dan Sugeng Berenergy S.Farm Apt
Read More..

Penggunaan ampas tahu dan pengaruhnya pada ternak Sapi

Limbah tidak selalu merugikan. Dengan sedikit pemikiran limbah dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Contohnya adalah ampas tahu yang dahulu menjadi masah tapi kini dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi.
Kebutuhan manusia akan protein nabati mendorong pengusaha pabrik diantaranya pabrik tahu meningkatkan Produksinya. Hal tersebut dikarenakan tahu adalah makanan yang banyak mengandung banyak protein nabati yang banyak diminati konsumen. Efek lain dari peningkatan produksi tahu adalah sisa dari pembuatan tahu atau ampas tahu yang belum banyak dimanfaatkan dan dianggap kurang mempunyai nilai ekonomis.
Jika kita mengkaji lebih lanjut dalam ampas sisa tadi masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang banyak kandungan proteinya. Saat ini belum banyak peternak yang memanfaatkan ampas tahu tadi sebagai pakan tambahan bagi ternaknya selain konsentrat. Pertumbuhan ternak yang di beri pakan ampas tahu lebih cepat dari pada yang tidak diberi. Jika dikalkulasi nilai ekonomi peternak akan mendapat untung yang lebih. Selama ini stok ampas tahu masih melimpah, harganya pun masih sangat murah. Lebih murah jika dibandingkan dengan harga konsentrat. Haraganya kira kira sekitar 9-12 ribu per karung (±60-80kg). Sehingga masih sangat menguntungkan bagi para peternak. Peternak mengalani keuntungan yang lebih karena dengan sedikit pengeluaran tambahan buat membeli ampas tahu tetapi hasil yang di dapat akan lebih banyak. Waktu perawatan/pertumbuhan lebih cepat karena asupan protein bagi ternak lebih tinggi.
Ampas tahu merupakan hasil ikutan proses pembuatan tahu, yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia. Bahan pakan ini mudah didapat dan memiliki nilai gizi cukup baik dengan kandungan protein kasar 21%. Sebagai pakan tambahan, ampas tahu dapat berfungsi melengkapi protein dari hijauan. 
Tabel Komposisi zat-zat makanan ampas tahu

Bahan
BK
PrK
Serat kasar
Lemak kasar
NDF
ADF
Abu
Ca
P
Eb

%
%
%
%
%
%
%
%
%
%
Ampas tahu
13,3
21,0
23,58
10,49
51,93
25,63
2,96
0,53
0,24
47,30
Sumber: Pulungan, dkk., (1985)
*) Sutardi dkk, 1976
**) Arianto (1983)

Pemanfaatan ampas tahu sangat efektif apalagi pada sapi potong pertambahan berat badan akan lebih cepat. Selain pertumbuhan lebih cepat, karkasnya bisa mencapai 60% dari berat sapi hidup. Biasanya pemberianya dicampur dengan bekatul diberi air dan lebih baik lagi jika dicampur dengan ketela yang telah dicacah maka pertambahan atau pertumbuhan akan lebih optimal. Ampas tahu merupakan sumber protein yang mudah terdegradasi di dalam rumen (Suryahadi, 1990) dengan laju degradasi sebesar 9,8% per jam dan rataan kecepatan produksi N-amonia nettonya sebesar 0,677 mM per jam (Sutardi, 1983). Penggunaan protein ampas tahu diharapkan akan lebih tinggi bila dilindungi dari degradasi dalam rumen (Suryahadi, 1990). Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas tahu sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas tahu telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan.
Daftar Pustaka
Tarmidi, A.R. 2009. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Karya Ilmiah. Universitas Padjadjaran.

Purbosrianto, Titis. 2009. Pemanfaatan Ampas Tahu untuk Pakan Ternak. Artikel Ilmiah.

Tarmidi, Ana. R. 2010. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Artikel

Artikel Asli Bumi Peternakan Wahyu Utama
drh. Ike Yuniarni dan Sugeng Berenergy S.Farm Apt
Read More..

Pengobatan Kudis (Scabies) Pada Kambing




Beberapa peternak menyebut penyakit scabies yaitu dengan penyakit gudig. Nama kedokteran yang lebih tepat adalah Sarcoptic Mange. Penyakit ini disebabkan oleh tungau parasit Sarcoptes scabiei. Jenis tungau ini masuk melalui kedalam jaringan kulit. Tungau ini mengakibatkan pembengkakan dan bintik-bintik yang disebabkan kalenjar rambut yang terhambat. Penyakit ini sering terjadi pada kambing muda, kambing yang sedang bunting dan kambing perah. Ada berbagai macam bentuk kudis, yaitu:
  1. Kudis ringan, ditandai dengan bintik-bintik kecil dan keras
  2. Kudis nanah, ditandai bintik-bintik besar yang didalamnya mengantung nanah. Biasa menyerang ambing kambing.
  3. Kudis tebal (kudis keket), menyerang mulai dari telinga dan kaki. Sulit untuk disembuhkan. Pada kasus yang pernah kami jumpai, telinga yang terserang kudis harus dipotong (amputasi).
Sarcoptes scabiei menyukai bagian tubuh yang jarang rambutnya, misalnya daerah telinga, tumit, sela paha dan ambing.
Gejala-gejala ternak kambing yang mengalami kudisan antara lain:
  • Hewan terlihat tidak tenang akibat rasa gatal dengan menggaruk atau menggosokkan pada benda keras. Rasa gatal tersebut timbul dari adanya allergen yang merupakan hasil metabolisme Sarcoptes scabiei. Selain itu, adanya aktifitas Sarcoptes scabiei misalnya berpindah tempat, juga dapat menyebabkan gatal.
  • Rambut rontok dan patah-patah akibat sering menggaruk pada bagian yang gatal. Adanya kerusakan kulit dengan tepi yang tidak merata disertai penebalan kulit (keropeng), kulit bersisik dan diikuti terjadinya reruntuhan jaringan kulit.
  • Nafsu makan hewan turun dan pada akhirnya akan diikuti penurunan berat badan sehingga hewan akan tampak kurus. Pada kasus yang berat dapat mengakibatkan kematian.

Pengobatan penyakit kudis pada kambing dapat dilakukan dengan injeksi (suntik) Ivermectin (Ivomec: merk dagang). Dosis yang diberikan umunya 1 ml untuk 20 kg bobot kambing. Pemberian dosis injeksi harus dikonsultasikan dengan dokter hewan. Injeksi diulang 10-14 hari kemudian dari injeksi yang pertama. Masa 10-14 hari adalah waktu yang diperlukan untuk sebuah telur tungau Sarcoptes scabiei yang mungkin masih tersisa untuk menetas. Ivomec umumnya dijual dalam kemasan 50 ml/botol.

Catatan: Ivomec tidak boleh diberikan kambing yang bunting karena dapat menyebabkan keguguran. Selain itu Ivomec baru bisa diberikan pada kambing diatas umur 2 bulan.
Selain pengobatan medis komersial, pengobatan tradisional dapat dilakukan. Beberapa pengobatan tradisional yang pernah dilakukan oleh masyarakat yaitu:
  • Untuk kasus ringan menggunakan oli bekas + belerang + minyak kelapa (minyak goreng), dimasak laku didinginkan.
  • Untuk kasus yang parah menggunakan 2 liter minyak goreng + Decis (obat serangga untuk tanaman / insektisida) 50 ml + oli bekas 50 ml. Pada kasus yang parah dimana kudis sudah menyerang seluruh tubuh kambing, ramuan ini diberikan 2 minggu (14 hari sekali). Dalam satu bulan kambing tersebut sembuh total dari kudisnya.

Penelitian lain menggunakan bahan yang berbeda untuk pengobatan tradisional dengan komposisi 97 ml oli bekas + 3 ml cuka 3% + 5 siung bawang merah. Masih banyak variasi bahan lainnya yang dapat dijumpai di internet atau buku.
Sebelum diobati ada baiknya kambing dimandikan dengan sabun sampai bersih. Setelah dimandikan kambing dijemur sampai kering. Ramuan diatas dioleskan atau diaplikasikan pada bagian yang terinfeksi. Hindari kontak dengan mata kambing. Setelah diobati hendaknya kambing diisolasi di kandang tersendiri.
Tentu saja penggunaan pengobatan dengan Ivomec lebih cepat daripada menggunakan cara tradisional. Namun setidaknya pengobatan tradisional memberikan alternatif untuk menggantikan ketiadaan Ivomec. Untuk kasus ringan, biaya pengobatan tradisional lebih murah dibandingkan Ivomec yang cukup mahal. Selain itu Ivomec memiliki pantangan-pantangan seperti yang telah dijelaskan diatas.
Sekalipun terdapat berbagai macam obat mengatasi kudis, mencegah lebih penting daripada mengobati.

Beberapa langkah pencegahan yang dilakukan peternak antara lain:
  • Menjaga kebersihan kandang dan peralatan. Bersihkan kandang kambing dari sisa-sisa makanan yang jatuh.
  • Hindari kambing dari air hujan. Jaga agar kandang tidak lembab.
  • Menjaga kebersihan kambing dengan memandikan ternak.
  • Isolasi dan observasi (karantina) kambing yang baru masuk.
  • Hindari memasukkan ternak terinfeksi kudis.
  • Segera isolasi dan obati kambing yang terinfeksi.
  • Menjaga kebutuhan pakan kambing agar tetap terpenuhi. Kambing etawa yang kurang konsumsi pakannya akan mudah terserang penyakit.


Artikel asli Bumi Peternakan Wahyu Utama
drh. Ike Yuniarni dan Sugeng Berenergy S.Farm., Apt
Read More..

PENTINGNYA KOLOSTRUM UNTUK PERKEMBANGAN PEDET



Komposisi kolostrum sangat baik sebagai nutrisi utama, imunitas, dan penunjang pertumbuhan pedet. Sebagai nutrisi utama untuk pedet, Kolostrum mengandung energi. Kolostrum mengandung protein enam kali lebih banyak, vitamin A seratus kali lebih banyak dan mineral tiga kali lebih banyak dibandingkan susu normal.
Kolostrum berperan dalam membentuk sistem imunitas tubuh pedet karena mengandung zat antibody. Zat antibody berfungsi melindungi pedet yang baru lahir dari penyakit infeksi. Zat antibody pada kolostrum dapat diserap dalam bentuk protein karena mengandung inhibitor tripsin. Pedet yang langsung diberi kolostrum setelah lahir akan tahan terhadap penyakit. Sebaliknya, pedet yang terlambat diberi kolostrum akan rentan terhadap penyakit dan memiliki resiko kematian lebih tinggi.
Selain sebagai sumber nutrisi dan pembentuk imunitas, kolostrum juga berfungsi dalam system pencernaan. Enzim dalam kolostrum mampu mamacu fungsi kerja organ pencernaan sehingga pencernaan mengeluarkan enzim lebih banyak. Pemberian kolostrum kepada pedet dapat mengurangi resiko diare karena kolostrum hanya mengandung sedikit laktosa. Laktoferin yang terkadung dalam kolostrum juga dapat menghambat perkembangan bakteri Eshrechia coli yang merugikan di dalam usus pedet pada 24 jam pertama setelah proses kelahiran.
Mengingat pentingnya kolostrum bagi pertumbuhan dan perkembangan pedet, peternak harus mengetahui mutu da kualitas kolostrum yang diberikan. Kualitas kolostrum dapat dilihat dari warna dan kekentalannya. Jika keadaan kolostrum semakin kental dan bewarna kekuningan, berarti mutu kolostrum semakin baik. Karakter tersebut menunjukkan kadar imonoglobulin yang tinggi.
Penurunan kualitas pada kolostrum dapat disebabkan oleh masa kering induk bunting kurang dari 3-4 minggu. Pada masa kering, induk bunting harus mendapatkan kecukupan nutrisi untuk menunjang perkembangan janin dan mempersiapkan produksi kolostrum pada awal proses kelahiran. Induk yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup akan menggunakan cadangan makanan, seperti protein dan lemak tubuhnya. Akibatnya, induk mengalami kekurangan nutrisi dan kualitas kolostrum menurun. Faktor lain yang dapat menurunkan kualitas kolostrum diantaranya sapi terus diperah sampai saat melahirkan, induk terlalu muda, serta ambing dan putting susu tidak segera dibersihkan ketika melahirkan atau akan diperah.
Referensi:
Fikar, S., Ruhyadi, D. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. Agromedia Pustaka.Jakarta



Artikel asli Bumi Peternakan Wahyu Utama
drh. Ike Yuniarni dan Sugeng Berenergy S.Farm., Apt
Read More..