Perkawinan
pada ternak sapi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu: Kawin Alam
(KA) dan Inseminasi Buatan (IB). KA biasanya menghasilkan keturunan
yang kurang baik, sedangkan dengan IB lebih menjanjikan menghasilkan
keturunan yang baik karena perkawinan dengan IB menggunakan sperma dari
sapi pejantan unggul.
Supaya terjadi kebuntingan, perkawinan
harus dilakukan pada saat sapi betina birahi (minta kawin). Apabila
tidak bunting dan tidak ada kelainan, sapi betina akan birahi setiap
18-21 hari (satu siklus). Tanda-tanda sapi birahi, yaitu :
a. Sapi gelisah dan tidak tenang.
b. Sapi sering menguak/melenguh.
c. Sapi mencoba menaiki sapi lain.
d. Sapi akan tetap diam kalau dinaiki sapi lain.
e. Pangkal ekor sering terangkat.
f. Keluar cairan jernih dari alat kelamin.
g. Alat kelamin bengkak dan berwarna kemerahan.
h. Nafsu makan turun.
Dalam
perkawinan sebaiknya dihindari perkawinan keluarga, yaitu perkawinan
antara induk dengan pejantan yang masih ada hubungan keturunan yang
sama. Perkawinan keluarga dapat menghasilkan keturunan yang kurang baik.
Umur Sapi Sapi
Betina pertama kali dikawinkan sebaiknya
pada umur 18-24 bulan. Setelah umur 6-7 tahun atau sudah beranak 4-5
kali sapi betina jangan digunakan sebagai induk lagi. Sapi jantan mulai
dapat digunakan sebagai pejantan pada umur 24-28 bulan. Setelah umur 5-6
tahun sapi jantan jangan digunakan sebagai pejantan lagi.
Pengaturan Perkawinan
Agar sapi dapat menghasilkan pedet setiap tahun (11-14) bulan), maka harus dilakukan pengaturan reproduksi:
a. Induk menyusui tidak lebih dari 7 (tujuh) bulan.
b.
Maksimal 3 (tiga) bulan setelah beranak, induk harus sudah dikawinkan
lagi dengan target selama 2 (dua) kali siklus estrus sudah bunting.
Untuk mencapai target ini, disamping harus selalu dilakukan pengecekan
tanda birahi, sapi juga harus diberi pakan dengan kandungan protein dan
energi cukup tinggi. Hal ini untuk mendukung sapi estrus kembali setelah
beranak.
c. 1 (satu) sampai 2 (dua) bulan sebelum beranak, induk
diberi pakan dengan kandungan protein dan energi cukup tinggi. Hal ini
untuk mendukung kondisi badan sapi menjadi cukup bagus saat beranak dan
selama beberapa bulan awal menyusui. Kondisi badan sapi induk yang cukup
bagus ini disamping akan mempengaruhi estrus kembali, juga akan
meningkatkan produksi susu sehingga pedet tidak kekurangan zat gizi.
Pelaksanaan Perkawinan
Pedoman
sederhana untuk memperbesar keberhasilan kebuntingan adalah ketepatan
mengawinkan sapi betina. Pelaksanaan perkawinan yang tepat sekitar 10-14
jam sejak tanda-tanda birahi. Apabila sapi birahi pada pagi hari, maka
paling lambat sapi dikawinkan pada sore hari, sedangkan apabila sapi
birahi pada sore hari, maka paling lambat sapi dikawinkan pada pagi hari
pada hari berikutnya.
Menentukan Kebuntingan
Kebuntingan
dapat diamati 21 hari setelah perkawinan. Kalau tidak ada tanda-tanda
birahi, maka kebuntingan telah terjadi, namun apabila tanda-tanda birahi
muncul lagi, maka perkawinan perlu diulang. Cara lain yang dapat
dilakukan adalah dengan perabaan, yang hanya dapat dilakukan oleh
petugas yang terlatih dan berpengalaman. Setelah anak sapi lahir, induk
sapi dapat dikawinkan lagi 3 (tiga) bulan setelah melahirkan. Sapi
bunting harus dipisahkan dari sapi yang lain. Kondisi ini dilakukan
untuk menjaga kebuntingan. Pakan yang diberikan harus dapat memenuhi
kebutuhan zat gizi untuk sapi bunting.
Mempersiapkan Kelahiran
Beberapa hari menjelang melahirkan, induk yang bunting akan menunjukkan tanda-tanda:
• Ambing membesar dan kencang.
• Urat daging di sekitar vulva mengendor dan di kanan-kiri pangkal ekor kelihatan legok.
•
Beberapa saat menjelang melahirkan, sapi gelisah. Apabila tanda-tanda
tersebut muncul, kadang harus dibersihkan dari kotoran dan diberi alas
dengan jerami kering. Setelah melahirkan, induk sapi akan membersihkan
linder yang menempel pada pedet yang baru dilahirkan dengan lidah.
Apabila induk lemah dan tidak mapu, maka kita perlu menolong
membersihkan, terutama yang mengganggu lubang pernafasan. Supaya
kelahiran berjalan lancar, induk sapi yang akan beranak diberi
kesempatan bergerak kira-kira 2-3 minggu menjelang melahirkan
penulis artikel :
Dr. Agung Prabowo, SPt, MP
Read More..