Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mengupayakan
payung hukum, proses teknis dan kesiapan Badan Urusan Logistik (Bulog)
sebagai penyanggah daging bisa rampung pekan depan.
Rencana ini harus terealisasi sebelum bulan ramadan untuk menstabilkan harga daging di pasar yang masih tinggi.
“Kami mencoba menata lagi hal-hal yang terkait perhitungan kebutuhan
impor, termasuk juga jenis, waktu dan sebagainya. Kedua adalah mengatur
perijinan, ada regulasi yang harus diubah. Ketiga adalah melibatkan
Bulog untuk melakukan kegiatan dan intervensi langsung,” ujar Wakil
Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Kantor Kementerian Perdagangan,
Jumat (24/5).
Perhitungan sementara Kemendag, importasi daging yang bisa dilakukan
Bulog adalah sebanyak 3.000 ton setara daging. Kesiapan Bulog menjadi
pertimbangan khusus. Apalagi Bulog selama ini belum memiliki fasilitas
penggemukkan sapi yang memadai.
“Dari kondisi sekarang masih terbuka apakah menggunakan box, artinya
frozen meat atau bakalan. Kalau bakalan, Bulog harus bekerjasama, karena
belum memiliki fasilitas penggemukan yang memadai. Kecuali dalam satu
dua bulan mereka bisa invest atau beli salah satu perusahaan,” tuturnya.
Selain kesiapan Bulog, pemerintah saat ini juga sedang merumuskan
mekanisme penyaluran daging impor dari Bulog ke pasar. Karena tujuannya
untuk menstabilkan harga, maka Bulog harus mampu melakukan intervensi ke
pasar.
“Jadi bagaimana kesiapan, jenis daging apa yang bisa disalurkan, itu yang harus dipikirkan,” imbuhnya.
Kemendag menargetkan langkah pengendalian harga daging ini bisa
dilakukan sebelum memasuki ramadhan pada awal bulan Juli mendatang.
“Kami ingin agar Bulog bisa memberi gambaran apa yang akan dia lakukan
untuk mencapai tugas pengendalian harga. Sehingga kita bisa mendukung
dengan peraturan dan regulasi yang memadai,” tukasnya.
Kementerian Perdagangan bersama Kementerian Pertanian dan instansi
terkait lainnya terus melakukan pembahasan intensif agar segera rampung.
“Pokoknya berusaha secepatnya, minggu depan mungkin lebih realistis,”
kata Bayu. (Nurulia Juwita Sari)
Editor: Edwin Tirani
Read More..